Minggu, 11 Mei 2014

Cancer (Cigarette Memoriam)

                                                      7 Mei 2013

Wajah keriput itu menghela napas. Sesak di dadanya terasa amat berat. Air matanya berlinang, lantas ia mengusap wajahnya yang tampak mengantuk karena menungguiku siuman. Ia membelai rambutku yang kering kaku. Aku ikut menangis, tentu saja menangis sesal. Semuanya bertubi-tubi kepedihan itu datang sejak 5 bulan yang lalu.

“Maah’kan akhu Nheek.. Uhk..Uhk” Suaraku sengau, lidah yang sejak seminggu lalu terkelupas terasa perih jika berbicara. Nenek tersenyum kecil, lantas mengambil gulungan tisu ditepi ranjang, mengusap bercak darah yang terus keluar ketika Aku terbatuk.

Perubahan waktu itu terlalu cepat. Lihatlah ketika umurku masih muda dulu, Semua terasa mudah. Ingin apa saja ada. Tak perlu sungkan-sungkan untuk hura-hura. Terutama untuk hobi merokok aku selalu saja berfoya foya dengan benda silinder itu. Lalu sekarang? Hidupku bagai coretan kertas buram, semua berubah 180 derajat. Kamarku yang luas dipenuhi peralatan medis. Selang infus, belalai-belalai plastik, layar dengan garis-garis hijau, tabung oksigen, dan peralatan medis lainnya memenuhi tata letak ruangan ini. Tubuhku hanya tersisa jazad tak berdaya bagai Zombigaret yang dimakan puntung rokok.

“Nenek sudah menelpon mama sama papa kamu. Mungkin besok sudah sampai” Kata wanita tua itu  kemudian meninggalkanku meringkuk merenungi sebuah langkah salah yang telah menjatuhkanku dalam jurang penyesalan, 2 tahun yang lalu.

 “Sudah cobalah sedikit kawan !, kamu akan terlihat seperti wanita jika tak mencoba ini” Kata Ardan sambil meniupkan kepulan asap rokok diwajahku.

“Ayolah, hanya sedikit” Yang lain menimpali.

Aku menurut, awalnya memang terasa aneh ditenggorokan. Aku terbatuk berkali-kali dan mereka semua menertawaiku. Kucoba lagi berkali-kali, akhirnya aku tak tersedak oleh asap itu kali ini. Mulai hari itu rokok selalu berada ditiap tiupan napasku. Rokok menjadi teman paling dekat, bahkan sampai begitu dekatnya tanpa kusadari ia merasuki tubuhku. Masuk jauh kedalam organ tubuh, selaput darah, hingga menyebar ke hati. Tanpa kusadari ia perlahan menggerogoti tubuh yang masih polos itu. setiap hari tanpa kusadari.

***
              
Esok paginya, ketika matahari tergelincir ke arah barat, akhirnya Mereka pulang. Meski tidak bersama-sama, karena sejatinya kedua orang tuaku telah lama memilih berpisah karena perbedaan pendapat.

"Kenapa Ibu tidak bilang?" Mama menangis sembari menoleh ke arah nenek, tangisnya tersendat, tangan Mama gemetar mengusap bibirku yang menghitam dan terkelupas. Ada bercak darah di sana. Keluar bersama dahak, Mama cepat mengambil tisu. Mengelap.

“Siang ini juga kita harus ke Singapura, Rio tidak boleh begini”,  Papa ikut menyeka sudut matanya yang tahu-tahu ikut menetes. Tersedu sedan.  “Harusnya ibu bilang dari dulu kalau Rio sakit!”

“Jangan salahkan Ibu ! kalian kemana saja? Sudah ratusan kali ibu menelpon, tidak ada satupun nomor yang aktif. Kalian lebih sibuk dengan urusan bisnis, bisnis, dan BISNIS. Lupa orang tua, lupa keluarga, apalagi Anak. Baru kemarin Ibu mendapatkan nomor kontak kalian dari paman Sam” Mata nenek berkaca-kaca. Hening sejenak, menyisakan deru mesin pendingin yang terdengar.

Aku terbatuk lagi, Mama menyeka darah dengan tangannya, kini ia semakin tergugu. “Tidhak adah yahng mesti dishalahkan. Maa’hkan Riyho. Ini salah Riyho yang tak pernah mendengar kata nenek untuk berhenti merokok” Kataku kemudian. Menangis.

Senyap, ruang kamar hanya tangisan tertahan yang terdengar. Dokter yang sejak beberapa bulan merawatku menatap dengan mata yang juga sembab. Kesedihan menggantung dilangit-langit kamar.

***
              
               Kurasakan pegap itu kembali menyeruak, dadaku terasa seperti di tekan batu ribuan ton. Kemudian, nafasku tersengal-sengal. Mendadak tubuhku terguncang keras dan darah berlendir itu berhamburan keluar dari mulutku yang membusuk, membanjiri ranjang Rumah Sakit. Aku mengerang, berusaha mencengkram ujung selimut kasur, berharap rasa sakit itu segera hilang. Sayangnya, Penyakit-penyakit itu tambah ganas. Mulutku seperti belahan sepatu rusak, dengan darah kental yang keluar setiap  5 menit.
               Perawat yang berjaga ikut panik memanggil dokter, tubuhku terus mengejang. Tenggorokan yang membengkak terasa dibakar dalam tampungan penggiling batu bara, mata yang memerah ikut terasa dicincang . Darah berlendir kemudian tumpah lagi berkali-kali. Dan setelah itu, aku tak pernah tahu apa lagi yang terjadi berikutnya. Semua tiba-tiba gelap. Gelap dan hitam.


Dear, All..
Biarkan hanya aku yang seperti ini, Biarkan saja aku sendiri yang merasakan sakitnya menjadi zombigaret,
Jangan kalian, jangan anak kalian. Keluarga kalian !!
Jangan biarkan mereka sepertiku, karena Jadi zombigaret amat menyakitkan. 
Biarkanlah aku saja yang begini L

By Halimah Izzma Ramli-
Buat kalian yang ingin ikut kampanye anti rokok, silakan ke :
FB : ZOMBIGARET
Tw : @Zombigaret

Tidak ada komentar:

Posting Komentar