7 Mei 2013
Wajah keriput
itu menghela napas. Sesak di dadanya terasa amat berat. Air matanya berlinang,
lantas ia mengusap wajahnya yang tampak mengantuk karena menungguiku siuman. Ia
membelai rambutku yang kering kaku. Aku ikut menangis, tentu saja menangis
sesal. Semuanya bertubi-tubi kepedihan itu datang sejak 5 bulan yang lalu.
“Maah’kan akhu
Nheek.. Uhk..Uhk” Suaraku sengau, lidah yang sejak seminggu lalu terkelupas
terasa perih jika berbicara. Nenek tersenyum kecil, lantas mengambil gulungan
tisu ditepi ranjang, mengusap bercak darah yang terus keluar ketika Aku
terbatuk.
Perubahan
waktu itu terlalu cepat. Lihatlah ketika umurku masih muda dulu, Semua terasa
mudah. Ingin apa saja ada. Tak perlu sungkan-sungkan untuk hura-hura. Terutama
untuk hobi merokok aku selalu saja berfoya foya dengan benda silinder itu. Lalu
sekarang? Hidupku bagai coretan kertas buram, semua berubah 180 derajat.
Kamarku yang luas dipenuhi peralatan medis. Selang infus, belalai-belalai
plastik, layar dengan garis-garis hijau, tabung oksigen, dan peralatan medis
lainnya memenuhi tata letak ruangan ini. Tubuhku hanya tersisa jazad tak
berdaya bagai Zombigaret yang
dimakan puntung rokok.
“Nenek sudah
menelpon mama sama papa kamu. Mungkin besok sudah sampai” Kata wanita tua itu kemudian meninggalkanku meringkuk merenungi sebuah langkah salah yang telah menjatuhkanku dalam jurang penyesalan, 2 tahun yang lalu.
“Sudah cobalah sedikit kawan !, kamu akan
terlihat seperti wanita jika tak mencoba ini” Kata Ardan sambil meniupkan
kepulan asap rokok diwajahku.
“Ayolah, hanya
sedikit” Yang lain menimpali.
Aku menurut,
awalnya memang terasa aneh ditenggorokan. Aku terbatuk berkali-kali dan mereka
semua menertawaiku. Kucoba lagi berkali-kali, akhirnya aku tak tersedak oleh
asap itu kali ini. Mulai hari itu rokok selalu berada ditiap tiupan napasku.
Rokok menjadi teman paling dekat, bahkan sampai begitu dekatnya tanpa kusadari
ia merasuki tubuhku. Masuk jauh kedalam organ tubuh, selaput darah, hingga
menyebar ke hati. Tanpa kusadari ia perlahan menggerogoti tubuh yang masih
polos itu. setiap hari tanpa kusadari.
***
Esok paginya,
ketika matahari tergelincir ke arah barat, akhirnya Mereka pulang. Meski tidak
bersama-sama, karena sejatinya kedua orang tuaku telah lama memilih berpisah
karena perbedaan pendapat.
"Kenapa
Ibu tidak bilang?" Mama menangis sembari menoleh ke arah nenek, tangisnya tersendat,
tangan Mama gemetar mengusap bibirku yang menghitam dan
terkelupas. Ada bercak darah di sana. Keluar bersama dahak, Mama cepat
mengambil tisu. Mengelap.
“Siang ini
juga kita harus ke Singapura, Rio tidak boleh begini”, Papa ikut menyeka sudut matanya yang
tahu-tahu ikut menetes. Tersedu sedan. “Harusnya ibu bilang dari dulu kalau Rio sakit!”
“Jangan
salahkan Ibu ! kalian kemana saja? Sudah ratusan kali ibu menelpon, tidak ada
satupun nomor yang aktif. Kalian lebih sibuk dengan urusan bisnis, bisnis, dan
BISNIS. Lupa orang tua, lupa keluarga, apalagi Anak. Baru kemarin Ibu
mendapatkan nomor kontak kalian dari paman Sam” Mata nenek berkaca-kaca. Hening sejenak, menyisakan deru mesin pendingin yang terdengar.
Aku
terbatuk lagi, Mama menyeka darah dengan tangannya, kini ia semakin tergugu.
“Tidhak adah yahng mesti dishalahkan. Maa’hkan Riyho. Ini salah Riyho yang tak
pernah mendengar kata nenek untuk berhenti merokok” Kataku kemudian. Menangis.
Senyap, ruang kamar hanya tangisan
tertahan yang terdengar. Dokter yang sejak beberapa bulan merawatku menatap
dengan mata yang juga sembab. Kesedihan menggantung dilangit-langit kamar.
***
Kurasakan
pegap itu kembali menyeruak, dadaku terasa seperti di tekan batu ribuan ton.
Kemudian, nafasku tersengal-sengal. Mendadak tubuhku terguncang keras dan darah
berlendir itu berhamburan keluar dari mulutku yang membusuk, membanjiri ranjang
Rumah Sakit. Aku mengerang, berusaha mencengkram ujung selimut kasur, berharap
rasa sakit itu segera hilang. Sayangnya, Penyakit-penyakit itu tambah ganas.
Mulutku seperti belahan sepatu rusak, dengan darah kental yang keluar
setiap 5 menit.
Perawat
yang berjaga ikut panik memanggil dokter, tubuhku terus mengejang. Tenggorokan
yang membengkak terasa dibakar dalam tampungan penggiling batu bara, mata yang
memerah ikut terasa dicincang . Darah berlendir kemudian tumpah lagi
berkali-kali. Dan setelah itu, aku tak pernah tahu apa lagi yang terjadi
berikutnya. Semua tiba-tiba gelap. Gelap dan hitam.
Dear, All..
Biarkan hanya aku yang seperti ini,
Biarkan saja aku sendiri yang merasakan sakitnya menjadi zombigaret,
Jangan kalian, jangan anak kalian.
Keluarga kalian !!
Jangan biarkan mereka sepertiku,
karena Jadi zombigaret amat menyakitkan.
Biarkanlah aku saja yang begini L
By Halimah Izzma Ramli-
Buat kalian yang ingin ikut kampanye anti rokok, silakan ke :
FB : ZOMBIGARET
Tw : @Zombigaret
.jpg)
.jpg)
